Kisah sebuah Nama

Namaku ini nama asli, itu yang sering ku ucapkan ketika teman teman baruku bertanya. Sedikit heran, apa ada yang aneh dengan namaku, kurasa biasa saja masih wajar dan tidak terlalu aneh di kuping pendengarnya.

Ini pemberian Om ku, seorang seniman..iya awalnya aku merasa kenapa aku di beri nama ini, sempat terfikir olehku untuk mengganti nama, tapi itu dulu waktu aku masih pakai seragam merah putih. Sekarang cukup bangga dengan nama ini.

Jaman SD yang notabene selalu ada plesetan nama oleh teman temanku sehingga namaku berganti sudah, hiks. Kadang kesal menghinggapiku kala itu dan ku balas dengan plesetan nama nama mereka sehingga terjadilah perang perangan nama sampai sampai nama orang tua ikut terbawa, wah ga bener nih ga ikutan ahh, untungnya aku bisa mempertahankan my throne name.

Berkenalan dengan teman baru saat aku baru masuk sekolah tingkat pertama, tidak masalah hanya saja tetap dengan pertanyaan arti namaku. Berlanjut ke SMA..ya sudahlah

Hanya saya mulai aneh saat menjadi mahasiwa baru, setiap dosen yang ngabsen pas giliran namaku selalu melirik ke bagian tempat duduk cowok. Nah Lho? hal ini terjadi berulang ulang dengan dosen dosen lainnya. Yang yang paling bikin aku kesal sampai saat ini adalah kesalahan gender/ salutasi saat email emailan di kantorku. Mas….bapak..begitu, dan tugasku adalah meluruskan kembali bahwa aku perempuan lho..hehe

Ternyata ada juga kok hikmahnya..teman temanku dengan mudah menemukan aku di jejaring sosial tanpa capek capek searcing..eh emangnya itu positif apa ya?? entahlah

Curhatan ga jelas ku di 1 Ramadhan 1431 H

2 tercapai, 3&4 Amin..

Ku mulai menulis lagi

Dengan status yang berbeda

iya…status

Sesuatu yang baru bagiku

Cukup menyenangkan…karean dia kekasihku

Satu cita citaku tahun ini tercapai

oh…ternyata dua, bukan satu

cita citaku mengantarkan adek kecilku menjadi Mhswa teknik telekomunikasi

alhamdullilah..

masih ada lagi..

iya..begitulah cita cita

tiada putusnya..

3 dan 4….ku berusaha

mudah mudah cita besar ku di tahun 2010 terwujud..amin

Lebih tepatnya diary bukan puisi hehe

Bunda..tolong mandikan saya sekali saja…please….

Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not to be the best?,” begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht -Belanda, Dewi termasuk salah satunya.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ”selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.

Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, “Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?” Dengan sigap Dewi menjawab, “Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna”. “Everything is OK !, Don’t worry Everything is under control kok !” begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.

Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd. dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. “Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda”. Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman bermainnya dirumah apa bila ia merasa kesepian.

Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ”memahami” orangtuanya.

Dengan Bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Dewi pada saya , Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya,” Bunda aku ingin mandi sama bunda…please…please bunda”, pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.

Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.

Peristiwa ini terus berulang sampai hampir sepekan. “Bunda, mandikan aku !” Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja…?” kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.

Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, “Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di Ruang Emergency”.

Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di Medan . Setelah tiba di Jakarta , Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi sayang… terlambat sudah…Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku.

Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata “Ini Bunda Nak…., Hari ini Bunda mandikan Bayu ya…sayang….! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak..” . Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, “Inikan sudah takdir, ya kan ..!” Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan ?”. Saya yang saat itu tepat berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.

Sementara di sebelah kanannya, Suaminya berdiri mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya.

Sambil menatap pusara anaknya, terdengar lagi suara Dewi berujar, “Inilah konsekuensi sebuah pilihan!” lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat.

Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa di duga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara anaknya sambil berteriak-teriak histeris. “Bayu maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni bundamu ya nak…? serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya ketanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya.

Sepanjang persahabatan kami, rasanya baru kali ini saya menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini.

Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak histeris “Bangunlah Bayu sayaaangku….Bangun Bayu cintaku, ayo bangun nak…..?!?” pintanya berulang-ulang, “Bunda mau mandikan kamu sayang…. Tolong Beri kesempatan Bunda sekali saja Nak…. Sekali ini saja, Bayu.. anakku…?” Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yang sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin deras membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Bayu.

Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja semakin tercium kuat manusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini…tapi apa hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna. Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari pada hanya sekedar memandikan seorang anak.

Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua yang sering merasa hebat dan penting dengan segala kesibukannya.

Sumber : mailis

Management Waktu

Suatu hari, seorang ahli ‘Manajemen
Waktu’ berbicara
di depan sekelompok
mahasiswa bisnis, dan ia memakai
ilustrasi yg tidak
akan dengan mudah
dilupakan oleh para
siswanya.

Ketika dia berdiri dihadapan siswanya
dia mengeluarkan
toples berukuran
galon yg bermulut cukup lebar, dan
meletakkannya di
atas meja.

Lalu ia juga mengeluarkan sekitar
selusin batu
berukuran segenggam tangan
dan meletakkan dengan hati-hati batu-
batu itu kedalam
toples.

Ketika batu itu memenuhi toples sampai
ke ujung atas
dan tidak ada batu
lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya,
dia bertanya: “
Apakah toples ini
sudah penuh?”

Semua siswanya serentak
menjawab, “Sudah!”

Kemudian dia berkata, “Benarkah?”

Dia lalu meraih dari bawah meja
sekeranjang kerikil.
Lalu dia memasukkan
kerikil-kerikil itu ke dalam toples
sambil sedikit
mengguncang- guncangkannya, sehingga
kerikil
itu
mendapat tempat diantara
celah-celah batu-batu itu.

Lalu ia bertanya kepada siswanya
sekali lagi: “Apakah
toples ini sudah
penuh?”

Kali ini para siswanya hanya
tertegun,”Mungkin
belum!”, salah satu dari
siswanya menjawab.

“Bagus!” jawabnya.

Kembali dia meraih kebawah meja dan
mengeluarkan
sekeranjang pasir. Dia
mulai memasukkan pasir itu ke dalam
toples, dan pasir
itu dengan mudah
langsung memenuhi ruang-ruang kosong
diantara kerikil
dan bebatuan.

Sekali lagi dia bertanya, “Apakah
toples ini sudah
penuh?”

“Belum!” serentak para siswanya
menjawab. Sekali lagi
dia berkata,

“Bagus!”

Lalu ia mengambil sebotol air dan
mulai menyiramkan
air ke dalam
toples,sampai toples itu terisi penuh
hingga ke ujung
atas.

Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini
memandang kepada
para siswanya dan
bertanya:
“Apakah maksud dari ilustrasi ini?”

Seorang siswanya yg antusias langsung
menjawab,
“Maksudnya, betapapun
penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha
kamu masih dapat
menyisipkan jadwal
lain kedalamnya!”

“Bukan!”, jawab si ahli, “Bukan itu
maksudnya.

Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan
kita bahwa :

JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA
KALI KAMU
MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN
PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU
KE DALAM TOPLES
TERSEBUT.

“Apakah batu-batu besar dalam hidupmu?
Mungkin
anak-anakmu, suami/istrimu,
orang-orang yg kamu sayangi,
persahabatanmu,
kesehatanmu, mimpi-mimpimu.
Hal-hal yg kamu anggap paling berharga
dalam hidupmu.
Ingatlah untuk selalu
meletakkan batu-batu besar tersebut
sebagai yg
pertama, atau kamu tidak akan
pernah punya waktu untuk
memperhatikannya. Jika kamu
mendahulukan hal-hal
yang kecil dalam prioritas waktumu,
maka kamu hanya
memenuhi hidupmu dengan
hal-hal yang kecil, kamu tidak akan
punya waktu untuk
melakukan hal yang
besar dan berharga dalam
hidupmu”.

“Sebab kehidupan tidak berjalan mundur,
pun tidak
tenggelam dimasa lampau

Sumber : Tetangga sebelah

Sukses Itu Pilihan

Sepanjang hidup kita , akan selalu ada pilihan. Pilihan untuk menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk. Kebanyakan kita membiarkan hal tersebut berlalu seiring dengan waktu. Jarang sekali kita merencanakan untuk menjadi lebih baik.

Kata kunci dari keberhasilan adalah perencanaan. Kita malas untuk merencanakan, karena pertama kita sendiri tidak yakin akan keberhasilan tujuan kita atau kedua kita lebih banyak mengeluh dan menyalahkan orang lain

Selagi masih ada waktu , selagi kita masih sehat , selagi masih ada kesempatan mari kita rencanakan kesuksesan dengan melakukan perencanaan dan bekerja keras dari sekarang

Mengapa kita tidak melakukan yang terbaik dan terindah dalam hidup kita?

Padahal kita tahu waktu terus berlalu…, kesempatan hidup kita di dunia hanya sekali.

Apa yang kita tunggu sebelum maut menjemput?
Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang jika orang tersebut tidak berusaha untuk merubahnya.
Apa yang akan kita terima nanti adalah buah dari apa yang kita lakukan sekarang.
Oleh karena itu kita perlu konsentrasi penuh pada tujuan kita.
Jangan sampai kita tergoda oleh sekedar kesenangan lain yang tidak memiliki tujuan berarti
Kesenangan atau kebahagian tertinggi adalah jika kita bisa berbuat sesuatu dan berguna untuk umat manusia
Dan untuk itu perlu ilmu dan kerja keras

Kesenangan yang berupa hawa nafsu pertama-tama terasa menyenangkan, namun setelah itu menjadi hambar tanpa makna .
Selama kita menjadi budak nafsu, hidup kita menjadi sia-sia.

Sekali lagi , mari kita fokus pada tujuan mulia, melakukan yang terbaik dan terindah dalam hidup ini.

KITA BISA MELAKUKAN YANG TERBAIK ASALKAN KITA MEMANG BETUL_BETUL MENGINGINKAN HAL TERSEBUT DAN BERDOA KEPADA YANG MAHA KUASA AGAR TUJUAN MULIA YANG KITA INGINKAN BISA TERCAPAI..
Aamiin..

Sumber :SSC

Jalan Menuju Sukses

Seorang anak muda bertemu dengan seorang guru di sebuah jalan raya. Ia bertanya, “Guru, yang manakah jalan menuju sukses?”
Sang guru terdiam sejenak. Tanpa mengucapkan sepatah kata, sang guru menunjuk ke arah sebuah jalan. Anak muda itu segera berlari menyusuri jalan yang ditunjukkan sang guru. Ia tak mau membuang-buang waktu lagi untuk meraih kesuksesan. Setelah beberapa saat melangkah tiba-tiba ia berseru, “Ha! Ini jalan buntu!”
Benar, di hadapannya berdiri sebuah tembok besar yang menutupi jalan. Ia terpaku kebingungan, “Barangkali aku salah mengerti maksud sang guru.”
Anak muda itu berbalik menemui sang guru untuk menanyakan sekali lagi, “Guru, yang manakah jalan menuju sukses.”
Sang guru menunjuk ke arah yang sama.
Anak muda itu berjalan ke arah itu lagi. Namun yang ditemuinya tetap saja sebuah tembok yang menutupi jalan. Ia merasa dipermainkan. Dengan penuh amarah ia menemui sang guru, “Guru, aku sudah menuruti petunjukmu. Tetapi yang aku temui adalah sebuah jalan buntu. Aku tanyakan sekali lagi padamu, yang manakah jalan menuju sukses? Kau jangan hanya menunjukkan jari saja, tetapi bicaralah!”
Akhirnya sang guru berbicara, “Di situlah jalan menuju sukses. Hanya beberapa langkah saja di balik tembok itu.”

Sumber Penulis : Gundolo Sosro
***
Pesan Moral :
Keberhasilan seringkali tak tampak karena ia bersembunyi di balik kesulitan. Hanya orang-orang yang mampu mendaki “tembok” itulah yang akan menemui keberhasilan. Jangan menyerah dan tetap berusaha, akan selalu ada nilai tambah dalam setiap usaha yang berulang-ulang kita lakukan untuk mencapai kesuksesan. Tetap Semangat

Trik Agar Tak Menjadi Pengangguran

Kondisi perekonomian yang tidak stabil mempengaruhi ‘kesehatan’ sejumlah perusahaan. Efek terburuk adalah pemutusan hubungan kerja untuk mengurangi beban hidup perusahaan.

Ancaman itu selalu ada. Untuk itu, meski berstatus karyawan, ada baiknya selalu siap menghadapi hal terburuk. Perlu disadari bahwa memperoleh pekerjaan baru bukan hal mudah dilakukan saat ini.

Ada lima hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga prospek pekerjaan seperti dikutip dari Divine Caroline. Antisipasi diri agar tak menjadi pengangguran.

1. Miliki jaringan
Banyak orang  baru mengumpulkan jaringan dan teman-teman lama saat membutuhkan pekerjaan. Padahal itulah waktu terburuk untuk membuat koneksi.

Tetap jalin hubungan dengan mitra dan rekan dari berbagai profesi, teman masa kuliah melalui Facebook atau LinkedIn. Jaga hubungan dengan jaringan secara teratur. Sehingga bila membutuhkan informasi, Anda akan mudah memperolehnya.

Apabila ada sebuah lowongan pekerjaan di tempat kerjanya, mereka pasti akan mencari orang yang mempunyai kompetensi yang sudah ia ketahui. Tak jarang posisi tersebut tidak dipublikasikan kepada khalayak.

2. Pekerjan sampingan
Hal ini tidak selalu mudah pada seseorang yang bekerja fulltime. Namun, jika Anda dapat mengelola hanya satu atau dua proyek lepas tiap tahun, Anda akan memiliki posisi lebih baik daripada mereka yang tidak mempunyai pekerjaan sampingan.

Bekerja sebagai tenaga kerja paruh waktu di sebuah perusahaan konsultan, bahkan proyek amal bermanfaat bagi karir di masa depan.

3. Bisnis sampingan
Memulai bisnis sendiri saat bekerja fulltime menantang sekaligus menjadi jaring pengaman bagi diri sendiri di masa sulit. Usaha dengan blogging, pemasaran terafiliasi, penjualan di eBay dan Facebook, atau penjualan langsung membantu Anda membangun karir di luar pekerjaan yang Anda sandang saat ini. Banyak karyawan yang kemudian mampu membangun bisnis sendiri dari pekerjaan sampingan.

4. Selalu belajar
Ambil keuntungan dari pelatihan dan pendidikan yang kerap diadakan perusahaan. Gunakan kesempatan yang ada untuk belajar hal-hal baru. Semakin banyak Anda tahu, semakin berharga Anda di mata perusahaan.

5. Data di dua-tiga jaringan perekrut
Pastikan untuk tetap ada dalam jaringan perekrut yang berada di industri Anda. Pastikan agar resume dan CV Anda perbarui meski sedang tidak memerlukan pekerjaan. Selain itu, gunakan banyak kata kunci yang baik bagi keahlian dan pengalaman dalam resume Anda agar berbeda dengan yang lain.

Sumber : Vivanews

Hachiko

Hachiko, kesetiaan seekor anjing

Di Kota Shibuya, Jepang, tepatnya di alun-alun sebelah timur Stasiun
Kereta Api Shibuya, terdapat patung yang sangat termasyur. Bukan
patung pahlawan ataupun patung selamat datang, melainkan patung
seekor anjing. Dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 untuk
mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya.
Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing
kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu
sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Profesor itu
setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan
kereta api.. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai
stasiun. Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui
tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali.
Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia
selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun.
Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.

Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju.
Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga
kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat
perapian yang hangat.

Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus.
Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang
sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh
menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh
yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap
tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal
dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat
kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno
berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko.
Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari
tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan
Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari
universitas.

Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet
panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-
orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal
dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti.
Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan
Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu, Hachiko. Karena memang
sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan
bakar batu bara itu.

Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua
orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi.
Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor
dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan,⤠saya akan menunggu tuan
kembali.â¤

⤽ Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi
sebelum tuan kamu ini pulang!⤠teriak pegawai kereta setengah
berkelakar.

Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak
keras,â¤guukh!â¤
Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda
kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang
itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor
tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang
tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-
salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.

Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas
menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai
mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk
penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang
kebetulah lewat koridor kampus.

Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar
yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke
klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus
jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya
menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu
kambuh. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor.
Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal dunia.
Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan
memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan
kembali ke rumah Profesor di Shibuya..

Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko
tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah.
Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar-
mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya.
Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing
itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja
tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.

Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di
situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah
satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali
ada kereta datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang
yang datang. Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno
tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua hari kemu dian , dan
berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap
menunggu dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali.
Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.

Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran
kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa
yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah
meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.

Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan
pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus.
Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap
menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa
tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus
kering karena jarang makan.

Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus
menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak
yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian
sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala
sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk
menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka
yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar
tidak kedinginan.

Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap harinya pada pukul
3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan tuannya. Namun hari-
hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena tuannya tidak kunjung
tiba. Dan di suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-
gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemu dian suasana
menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah
kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi
mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun
terbawa sampai mati.

Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke
stasiun Shibuya.. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan
anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya.
Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi
pada manusia.

Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang kesetiaan anjing
itu mereka kemu dian membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya.
Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat
untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada
kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiku saat mereka
harus menunggu maupun janji untuk datang.. Akhirnya patung Hachiku
pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa
sampai mati.

Hu.hu.hu……jadi  sedih, sayang bukan kucing,coba kalo kucing,,mau dech gw piara kucing he..he..

funkytridoretta

Character assassination

Pembunuhan karakter dapat mengakibatkan reputasi orang tersebut menjadi rusak di depan publik, terhambat karirnya serta akibat yang lebih besar dimana orang tersebut dipecat dari pekerjaannya, kariernya, dan jabatannya. Dengan kata lain dapat juga di sebut penghancuran reputasi. Di negeri kita tercinta ini pun hal ini lumrah terjadi mulai dari tingkatan kepemimpinan nasional, tokoh nasional, selebriti, tokoh masyarakat, hingga diskusi antar personal. Mungkin yang lebih sering kita dengar di TV adalah pada kalangan politik dan selebriti..

Saya sama sekali tidak setuju dengan hal ini, sangat mengecam keras pelaku yang sengaja atau tidak sengaja melakukan perbuatan ini, walau memang ini adalah cara praktis dengan politik licik untuk mencapai tujuan. Kembalikan saja ke diri pribadi , apakah kita tidak pernah memikirkan hal tersebut jika terjadi pada diri sendiri, atau apakah tidak pernah berfikir apa dampak nanti di kemudian hari. Saya rasa orang orang seperti ini tidak punya tuhan, atau sengaja melakukannya dan berdoa semoga tuhan memberikan ampunan.. Wah..saya rasa orang yang tega melakukan pembuhan karakter terhadap seseoarang adalah karena dirinya sendiri menyadari bahwa dirinya secara profesional tidak mampu bersaing dan lebih bodoh dari orang tersebut.

Bagaimana menurut anda tentang ini, pembunuhan karakter sendiri sampai sekarang masih belum jelas terdefenisi, mungkin perlu di perjelas terlebih dahulu. Kalau saya pribadi apapun itu namanya jelas jelas tidak berperikemanusiaan. kalau di lihat lebih jauh di kehidupan sosial kita, cara yang dilakukan Mr/Mrs kill ini tidak hanya dalam bentuk fitnah, bisa saja dalam bentuk lain yang menyebabkan seseorang kehilangan muka dan kehilangan ciri khas dari karakternya. Ya berharap saja semoga orang orang seperti ini tidak beredar disekitar kita..hehehehe

Hadapi Pembunuhan Karakter dengan Bijak

(Nieva_Diva/blog)

*Jalin Hubungan Baik Jadi Kunci Utama
BERSAING untuk mendapatkan yang terbaik kerap kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu wajar mengingat sifat alami manusia adalah tak pernah puas dan ingin selalu lebih dari yang lainnya.
Begitu juga dalam kehidupan karier, persaingan untuk meraih jenjang karier yang lebih tinggi kerap memicu keinginan seseorang untuk mengukir prestasi yang lebih baik.
Sepanjang persaingan yang dilakukan ditempuh dengan cara yang positif, pastinya sah-sah saja. Yang tak wajar adalah jika persaingan dilakukan dengan berbagai cara termasuk cara-cara negatif yang tak bermoral. Sebut saja, upaya pembunuhan karakter ‘lawan’ agar terlihat lebih buruk di mata rekan kerja, atasan maupun relasi.
Jika didefinisikan, character assassination atau usaha pembunuhan karakter adalah usaha menghilangkan orisinalitas atau keaslian karakter seseorang dalam pandangan orang lain.
Kondisi ini tidak saja menyangkut fitnah dan menyebarkan berita bohong tentang seseorang. Namun juga menyangkut pencitraan tentang diri seseorang dari orang lain. Sementara, citra diri merupakan hal penting dan berperan besar dalam kelangsungan kehidupan sosial seseorang. Termasuk dalam kehidupan karir. Sehingga, bisa dibayangkan sendiri akibat yang harus ditanggung ketika seseorang mengalami sebuah pembunuhan karakter.
“Citra yang buruk sangat berpengaruh pada tingkat kepercayaan dan penilaian seseorang terhadap orang lain. Dalam kehidupan pribadi tentu saja juga sangat merugikan,”ungkap S Susilowati, Senior Executive HRD PT Batamindo Investment Cakrawala Batam.
Mengingat pentingnya citra diri terhadap kehidupan kita, tak ada salahnya jika kita selalu waspada agar tak menjadi korban upaya pembunuhan karakter oleh ‘lawan’ atau ‘saingan’ kita.
“Cara paling mudah agar tak menjadi korban adalah melakukan pembuktian dengan cara menunjukkan kompetensi diri kita. Jika kita kompeten, pada akhirnya orang lain akan dengan sendirinya menilai kebenaran berita yang disampaikan atau digosipkan tersebut,”ungkap Susi.
Selain itu, penting juga menjalin hubungan baik dengan semua rekan kerja agar tercipta persaingan yang sehat dan positif. Berkomunikasi dengan baik dan saling membantu sebagai tim, akan membuat rekan kerja merasa setara dan tak perlu saling menjatuhkan.
“Kadang kala orang melakukan persaingan tak sehat karena sebenarnya mereka merasa kurang percaya diri dengan kemampuan atau kompetensi mereka dalam bekerja,”jelasnya.(*)

Lakukan Klarifikasi Jika Isu Mengkhawatirkan
MENGHADAPI kenyataan buruknya citra diri kita baik di mata rekan kerja, atasan maupun relasi akibat perbuatan ‘saingan’ kita pastinya menyakitkan. Sebab, tak bisa dipungkiri, citra diri memiliki andil cukup besar terhadap kesuksesan karier seseorang. Yakni menyangkut kepercayaan orang lain pada kita.
Nah, mengingat betapa pentingnya pembentukan citra diri positif demi kelangsungan karier dan kehidupan sosial, setiap orang pasti tak mau tinggal diam ketika menjadi korban fitnah maupun pembunuhan karakter.
Artinya, penting untuk segera melakukan sesuatu sebagai bentuk pembelaan diri dan menunjukkan pada publik bahwa berita yang selama ini tersebar adalah berita bohong semata.
“Yang penting dilakukan ketika menghadapi fitnah atau pembunuhan karakter adalah tetap fokus pada kompetensi diri serta membangun kekompakan tim serta memperlancar komunikasi,”saran S Susilowati, Psikolog yang juga Senior Excutive HRD PT Batamindo Investment Cakrawala.
Selain itu, penting juga untuk melakukan counter atau klarifikasi isu atau kabar tentang diri kita jika ternyata kabar yang berkembang tersebut sudah cukup mengkhawatirkan. Baik untuk kehidupan karier maupun kehidupan sosial.
“Kalau perlu ajak bertemu orang yang kita tahu suka menyebarkan berita bohong tentang diri kita. Atau cari orang yang memang ‘tukang gosip’ untuk membantu kita meng-counter isu-isu bohong tentang diri kita,”jelasnya.
Jalinan komunikasi serta upaya men-counter berita bohong tentang diri kita tersebut hanyalah sebuah usaha yang bisa dilakukan untuk mempertahankan citra diri. Namun yang paling penting diingat adalah kebenaran pasti akan terbuka dengan sendirinya.
Pepatah bijak mengatakan, emas tetaplah emas. Meskipun ditimbun lumpur, ia akan tetap jadi emas. Kalau bagus, maka tetaplah bagus, meski dijelek-jelekan atau difitnah akan tetap terlihat bagus.
“Yang terpenting adalah buktikan saja dengan selalu memberikan kinerja atau pelayanan yang terbaik dalam setiap pekerjaan yang dilakukan,”saran Susi, panggilan akrab wanita berjilbab ini. (*)

Sabar dan Selalu Berpikir Positif
TIDAK mudah untuk menghadapi satu lingkungan dimana citra diri kita sudah rusak akibat perbuatan orang tak bertanggungjawab. Namun, menghadapi kondisi sulit bukan berarti tak bisa dilewati. Sebab, sepanjang kita mau berusaha untuk melakukan hal yang baik, seburuk apapun pembunuhan karakter yang telah dilakukan, lama kelamaan akan terbuka juga kenyataan sebenarnya.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan dalam menghadapi pembunuhan karakter tanpa luapan emosi? Berikut beberapa tips yang diberikan Susilowati untuk Anda semua:
1. Tetap bersabar
2. Selalu berpikir positif
3. Tetap berusaha menunjukkan kinerja yang terbaik
4. Berkomunikasi dengan baik dengan rekan kerja maupun relasi
5. Terus menerus melakukan introspeksi diri.(*)

Hanya Untukmu

Mengertimu..

Kadang tidak terlalu terlihat

Kadang kabur dan kabut kulihat

Sulitku gambar..dan tak terdefenisi

Mencintaimu…

Melukis siang dengan mentari

Menggambar malam dengan rembulan

Sendiri…

Tidak dengan yang lain

Hanya sendiri

Menjagamu…

Berdiri di sampingmu..

Berlari di belakangmu

Berhenti di depanmu

Tenggelam bersamamu

Hanya Untukmu

Duniaku….

Duniamu….

“elon”

Cinta sebenarnya

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.